Tanggal ini dibulan yang lalu, aku beserta semua rekan penerima beasiswa mendarat di Frankfurt, tepat pukul 06.30 dengan maskapai penerbangan negara tetangga yang sedang menggoda negara kita. Tak terasa waktu begitu pandai menipu, sudah sekali berganti rotasi bulan ternyata aku disini, di Jerman, Eropa.
Berikut adalah fakta dan kesan selama waktu yang tak terasa itu.
Bus dan system transportasi mapan lainnya
Begitu keluar dari Frankfurt International Airport, kami langsung disambungkan dengan bus menuju kota Marburg, tempat dimana kami akan melanjutkan kursus bahasa rumit ini. Sistem transportasi disini sudah dalam level Jenderal menurutku jika dibandingkan dengan level Kopral balok satu yang aku sematkan pada sistem transportasi di kota Jakarta. Begitu teratur, tepat waktu, bersih dan aman. Setiap bus memiliki jalur dan waktunya masing-masing. Sistem pembayaran penumpang pun dikelola dengan rapi dan bertanggungjawab, sehingga tidak pernah ada kejadian ngetam-ngetem berlama-lama seperti P 20 yang lazim kami gunakan ketika kursus di GI Jakarta dulu. Tidak ada juga adab keji menurunkan penumpang serampangan seperti Metro Mini disini, karena semua penumpang punya halte favoritnya masing-masing. Melihat fakta mengagumkan tersebut, sekali waktu aku termenung di halte favoritku, dan tersadar, bahwa ya, sekarang aku sedang berada di Jerman, Eropa.
Kota tua
Objek wisata kota tua di Indonesia yang pernah kudatangi cuma Kota Tua Batavia, tak jauh dari stasiun Kota, Jakarta. Menikmati Eropa memang idientik dengan mengunjungi bangunan-bangunan tua nan eksotis, tentunya dengan kewajiban berfoto disekitarnya. Di kotaku sekarang, Marburg, terdapat banyak sekali bangunan tua, kecuali pusat perbelanjaan yang sudah sedikit modern bangunan di kota ini semua masih peninggalan dari perang dunia ke-2 dulu, dimana kota ini selamat dan berbahagia. Sampai kini favoritku masih Heidelberg, kota dalam lembah nan eksotis, memiliki Puri tua dengan pemandangan luar biasa ke arah kota yang dilewati sungai bersih tiada tara. Berfoto disana, meyakinkanku bahwa sekarang aku sedang berada di Jerman, Eropa.
Tong sampah
Perkara ini sudah seharusnya dicontoh oleh warga Jakarta, atau bahkan warga Dunia. Membuang sampah pada tempatnya adalah peribahasa wajib hapalan anak esde di negeri kita Indonesia, tapi ternyata anekdot itu masih kalah jauh dibanding cerita guru saya disini, bahwa setiap anak Jerman yang sudah bisa berjalan wajib diajarkan cara membuang sampah yang benar, selayaknya anak kecil di Aceh yang diwajibkan membaca Iqra‘. Setiap tong sampah berkuasa pada tiap isi kandungannya, mereka semua diberi warna dan nama, ada yang berwarna kuning, merah, biru dan hijau. Si Kuning selalu berisi sampah plastik, Si Merah bermuatan sampah sisa makanan, Si Biru hanya mengadung kertas, dan Si Hijau hanya boleh ada sampah keras seperti gelas. Begitulah kawan, dan ketika aku lama berdiri di depan tong sampah aneka warna tersebut untuk berfikir akan kemana sampah ditanganku akan kubuang, aku menyadari, bahwa sekarang aku sedang berada di Jerman, Eropa.
Stadion megah dan sportivitas pendukung sepakbola
Minggu pertama aku langsung ikut rombongan teman-teman yang akan menuju Bremen. Niat kuatku hanya satu, melihat Wesserstadion, kandang Werder Bremen. Sabtu malam minggu pertama akhirnya niatku itu terlaksana, walaupun dalam keadaan malam hari, kemegahan dan atmosfir sakral agama sepakbola disini cukup terasa. Lalu minggu kemarin aku berbuka puasa di KJRI Frankfurt, ketika malamnya pulang, di dalam gerbong kereta yang bersamaan, kulihat dua orang suporter masing-masing klub yang baru saja bertanding di pekan ke-2 Bundesliga. Eintracht Frankfurt sebagai tuan rumah dipermalukan Hamburg SV di depan majelis mulia kotanya. Tapi mereka, kedua suporter dengan atribut bersebrangan itu tidak terlihat seperti suporter Persib dan Persija yang selalu merasa berkuasa di kandangnya. Aman rasanya menonton dan menikmati sepakbola disini, di Jerman, Eropa.
Mobil mewah
Selama tinggal di Jakarta, beberapa kali aku melihat mobil mewah pejabat negara dengan seenaknya membuat macet jalan raya. Disini, paradoks itu sangat terasa, karena mobil mewah selayaknya Mercy, VW, Ford dan bahkan BMW, sering kulihat dikendarai oleh rakyat jelata. Tertawa hatiku mengingat mobil pejabat negara yang disini seperti yang biasa saja. Itu artinya, sekarang aku sedang berada di Jerman, Eropa.
Air putih bersoda
Tak habis pikir aku ketika membeli air putih untuk melepas dahaga. Mengapa mereka mencampurnya dengan soda? Aneh sekali rasanya kawan, kau pikirkan dengan cermat tentang alasan mereka mencampurnya dengan soda, jika kau sudah tau jawabannya, tolong email aku segera, karena sekarang aku sedang berada di Jerman, Eropa.
Mesjid satu-satunya
Menghadapi Jumat pertama, kami pun sibuk bertanya tentang adakah mesjid di kota gereja ini. Alhamdulillah terdapat satu-satunya mesjid atau tempat sholat di lantai dua rumah seorang muslim disini, searah perjalanan jika kita berjalan dari gereja tua. Mesjid itu tak hanya untuk sholat saja, seperti layaknya mesjid zaman nabi dahulu kala, disitulah tempat semua masyarakat muslim berbagai negara bersujud dan juga berbuka puasa bersama. Miris hatiku mengingat mesjid-mesjid tanah air yang megah, mewah dan raya-raya, tapi saf sholatnya entah kemana. Beginilah kawan, karena aku sekarang sedang di Jerman, Eropa.
Udara Sejuk Dinginnya
Katanya sih sekarang masih musim panas, menjelang musim gugur. Terkadang matahari hangat menyapa, tapi tak jarang gerimis datang tanpa diduga. Terkadang suhu mencapai ke angka kepala dua, tapi pernah juga derajat menunjukkan nilai seadanya. Pernah suatu ketika, pagi hari saja dinginnya luar biasa, seperti Brastagi pukul tiga pagi. Tapi ada saatnya juga matahari memaksa Jerman-Jerman muda membuka bajunya. Tapi yang luar biasa adalah sejuk dan bersihnya udara, mungkin di Indonesia hanya ada di puncak Jayawijaya. Benar, inilah dia, sekarang aku sedang di Jerman, Eropa.
0 komentar:
Poskan Komentar