Keringat membasahi hampir separuh tubuhnya. Kelelahan tak bisa disembunyikan walau senyuman menghiasi wajahnya. Kumengerti, sahabatku yang satu ini tak akan pernah mengeluh walau kutahu staminanya tak lagi bersisa. Kuajak dia sejenak untuk melepas kepenatan tubuh sambil memulihkan energi. Sebuah kesalahan yang kubuat, perbekalan untuk perjalanan ini lupa kumasukkan dalam tas hingga tertinggal di atas meja makan rumahku. Suara desahan nafasnya begitu cepat dan bibir merahnya nampak kering yang menandakan kehausan dah memuncak. Karena tak tegaan, kuberanjak mencari kios untuk membeli air mineral yang jaraknya mungkin sekitar satu kilometer arah barat tempat posisi kami duduk. Tak lama, kukembali dengan membawa lima buah aqua gelas dan tiga buah air manis gelas. Kudapati dia sudah tertidur. Kuamati seksama. Begitu nyenyak dia terlelap. wajah sawo matangnya yang khas ureung pidie dan dihiasi sedikit jerawat menyiratkan kenyamanan yang sangat. Emang, inilah kelebihan yang diberikan oleh Allah SWT untuk orang yang berat badannya berlebih, bisa tidur dengan posisi dan keadaan bagaimanapun.Tak tegaan membangunkan, aku pun merebahkan diri menatap birunya langit disebalahnya dibawah pohon mangga.
Kenangan selagi di dayah pun terlintas di lamunanku. Saat awal kembali dari liburan kenaikan kelas tiga, aku yang paling cepat sampe asrama. Dah menjadi kebiasaan, Penentuan posisi tidur dan jenis lemari ditentukan dari siapa yang duluan mengamankan kunci dan meletakkan barang di tempat tidur. Dan, hal itu tak kusia-siakan dengan memilih lemari yang paling besar dan kasur yang paling empuk serta letak ranjang yang paling strategis. Aku memilih jenis lemari dari triplek berukuran paling besar dengan dua pintu dan ranjang dekat jendela di kamar yang paling luas yang mampu memuat sekitar 10 orang santri. Berselang 4 jam, sahabatku tu pun datang. Dia ikutan memilih, karena kulihat dia kebingungan, kutawarkan satu pintu lemari yang sudah kuputuskan menjadi hakku untuknya dan diapun memutuskan mengambil ranjang disebelahku. Entah mengapa padahal semenjak kelas satu ampe kelas dua hubunganku dengannya tidak terlalu dekat, namun mungkin inilah takdir sehingga menjadi awal kisah persahabatanku dengannya.
Masih jelas tentang gambaran sosoknya di umur 17 tahun. Tampangnya emang khas banget awak meureudue. Tingginya kalau tidak salah saat itu 169 cm, 3 cm diatasku. Berat badanya lebih kurang 78 Kg. Kakinya lebih panjang ketimbang badannya, kulitnya putih pucat agak gelap khas aceh alias sawo matang. Kulit wajahnya sudah ditumbuhi cerawat, dan cara bicaranya agak meugap-gap (terbata-bata). Walau fisiknya biasa saja, malah mungkin aneh, namun banyak hikmah yang bisa didapat disaat selagi bersamanya.
Suatu kali saat 3 bulan awal menjadi yang paling senior di sekolah, dia untuk kesekian kalinya dijahilin oleh aku dan kawan-kawan. Dia hanya tersenyum dan diam. Saat itu kami mikir dia marah. Ternyata, kata marah tak ada di dalam kamus hidupnya.Dia hanya bermaksud ngerjain kami dan setelah itu kembali bersikap biasa. Separah apapun hujatan dan ejekan yang dilontarkan kepadanya, senyum khasnya tetap mengembang. Kupikir awalnya, bodoh banget ne anak dalam bersikap karena emang sebenarnya di angkatan dia termasuk yang paling jelek nilai rapornya. Namun, akhirnya kusadari ternyata dalam hal memaknai kehidupan dia lebih cerdas dariku walau di kelas saat membahas pelajaran IPA, aku lebih darinya.
Tanpa sengaja, saat aku membersihkan kamar. Aku menemukan secarik kertas penuh coretan yang bisa kupastikan tulisan yang tertera adalah goresan tangannya. Rasa terkejut bercampur kagum memenuhi seluruh pori-pori tubuhku. Disana tertulis, hikmah dari kisah hidupnya sehari-hari. Kelakuan kami saat menjahilinya dimaknai positif olehnya dengan mengatakan "sahabat yang mencintaiku ". Dibawahnya, juga terdapat hikmah saat dia dijahatin oleh kawan-kawan cewek. Sudah menjadi rahasia umum, kawanku ne satu selalu menjadi objek observasi para kaum hawa karena sifat malu dan ngomongnya yang meugap-gap. "lagi, hari ini para bidadari memberikan motivasi untukku guna menjadi lebih sabar dan tangguh" tulisnya. Hal yang membuatku terenyuh, kata terakhirnya, "teruslah berpikir positif dan tersenyumlah". Subhanallah, berulang kali kuucapkan saat itu, begitu bijak dia menyikapi tiap leku dari perjalanan hidup ini. Saat itu kutanamkan di hati, inilah sahabat yang benar-benar luar biasa. Mungkin sekarang aku tak bisa sepertinya, namun suatu saat pasti.
Detik berganti menit, minggu pun berganti bulan. Kebersamaanku bersamanya di kehidupan pesantren hanya bersisa tiga bulan lagi. Aku dengan keterbatasanku sebagai manusia melakukan kesalahan yang fatal. Melakukan hal kontroversi yang berujung tersakiti hati wanita dan disidang oleh semua komunitas angkatan. Dengan bijak, hanya dia yang saat itu menghiburku dengan menganjurkanku untuk berpikir positif.
"Mungkin ini adalah pengalaman berharga untuk akhi dalam memaknai sebuah MASALAH, ALLAH tidak memberikan COBAAN yang tak mampu ditanggung oleh umatnya termasuk akhi. Yakinlah, dengan kejadian ini antum akan menjadi lebih bijak"
Duh, bagai angin syurga, nasihatnya mengalir dari telinga masuk keseluruh tubuhku. Walau, tidak sepenuhnya aku bisa kembali semangat, namun setidaknya tak mempengaruhi dengan drastis terhadap penurunan nilaiku di UAN. Sedih sich, Peringkat satu yang seharusnya bisa kupertahankan di penghujung status siswaku, sirna hanya karena aku belum bijak dalam memahami hidup dan mengendalikan gangguan psikologis.
Lagi, saat pengumuman nilai UAN, dia menyemangatiku.
"Penilaian sederhana dari manusia tidaklah menunjukkan sepenuhnya potensi yang ada pada diri kita, karena hanya Dia, sebagai Sang Pencipta, yang sebenar-benarnya Pemberi Penilaian. Aku yakin akhi lebih dewasa sekarang dalam memaknai hidup", ucapnya dengan senyuman keikhlasan.
Emang suatu nasihat yang penuh ketulusan langsung bisa tanpa penghambat masuk menyentuh hati. Aku jadi bisa tersenyum walau masih tipis saat itu.
"eu hai, termenung sabee. Pue yang droen pike?"
Lamunanku akan pengalaman hidup di dayah pun buyar karena lengkingan suaranya. Rupanya dia telah bangun dari tidur lelapnya. Kulihat jam tanganku, tak terasa waktu sudah 2 jam berlalu.
Aku hanya bisa tersenyum.
"Hana hai, cuma teringat tentang kisah geutanyoe ate di RIAB awai, manteung. Loen bersyukoer that bak ALLAH, neuberi ngoen age droeneuh..!" jawabku.
"Loen pieh bersyukoer jeut keu ngoen droeneuh", katanya.
"Hai,,!!, droen joek nasihat loem lah keu loen sebab pue hai yang droeneuh peugah, leeh pakeun langsoeng ditamoeng bak hatee loen", pintaku.
"hmmm,.." gumamnya. lagi mikir mungkin, pikirku.
"Coi, Ibu adalah makhluk yang paling suci yang dikaruniai Allah untuk kita. Tak ada yang bisa mengantikannya, walau oleh wanita yang paling cantik atau sempuna sekalipun. Ibu tetap Ibu, hanya ada satu di dunia. Selagi dia hidup, sayangi lah ia. Baktikan dirimu dengan penuh keikhlasan kepadanya. Ingat..!! akan datang nanti saat engkau dewasa dan beranjak untuk menikah, syeithan akan membuatmu membelakangi ibumu untuk mendapatkan calon istrimu. Nah, saat itu jangan lupa dengan nasihatku bahwa TAK ADA YANG BISA MENGANTIKAN KASIH SAYANG SEORANG IBU", ungkapnya dengan suara yang terbata-bata namun jelas sambil tersenyum, senyuman yang luar biasa indah.
Entah mengapa seiring dengan penangkapan senyumannya oleh memoriku. Pandanganku pun menjadi gelap. Dan aku pun ketiduran.
"Bang,..bang.. bangun..!! dah mau azan tu, wudhuk terus ge..!", teriak si Ahmad, angota remaja mesjid kampus yang cukup dekat denganku.
Dengan penuh keheranan, aku pun tersadar. Dengan cepat kusadari rupanya tadi aku cuma mimpi. Namun, senyuman indahnya masih terbayang jelas dalam memoriku. Nasihatnya pun masih tergiang-giang di telingaku.
Aku pun teringat saat melakukan pencarian akan dirinya di awal tsunami dulu dengan beberapa kawan. Dan kami dapati cerita dari tetangganya di lam pase, walau asal dari sigli dia telah lama tinggal di banda, bahwa sebenarnya dia dah selamat saat mampu berenang ampe rumah tingkat 3, namun karena melihat ibunya dibawa air. Dia pun melompat bermaksud menolong. Kerena sudah jadi Takdir ALLAH, malaikat maut mencabut nyawanya dalam keadaan menyelamatkan wanita yang paling disanjungnya dan dicintainya *mungkin hal yang selalu dia impikan*. Sahabatku itu pun meninggal dunia ini bersama dengan ibunya.
Tambah tetanga yang memperkenalkan diri Haji Ali itu,
"Sesaat sebelum melompat dia tersenyum pada kami dengan senyuman yang sangat indah"
Senyuman bercahaya dan mempersona yang terakhir kali kulihat walau dalam mimpi masih terus teringat ampe sekarang.
"Sahabatku, sangat susah mencari orang sepertimu di dunia fana ini. Ajaranmu agar "berpikir positif dan tersenyum" akan terus kujaga dan kuajarkan. Aku mencintaimu karena ALLAH, semoga kita bisa berjumpa lagi di syurga-Nya. Amin..", gumamku dalam hati sesaat setelah shalat dengan penuh tekad dan kekhusyukan.
nb: Ku dedikasikan untuk sahabat sejati, yang lagi menungguku di taman syurga...
__________________________
TERJEMAHAN : ^_^..
"eu hai, termenung sabee. Pue yang droen pike?"
artinya : "Termenung selalu, apa yang kau pikir?"
"Hana hai, cuma teringat tentang kisah geutanyoe ate di RIAB awai, manteung. Loen bersyukoer that bak ALLAH, neuberi ngoen age droeneuh..!... Read More
artinya : "gak, cuma teringat tentang kisah kita saat di RIAB dulu aja. aku bersyukur kali sama ALLAH diberikan sahabat seperti kamu"
"Loen pieh bersyukoer jeut keu ngoen droeneuh",
artinya : aku pun bersyukur menjadi sahabatmu
"Hai,,!!, droen joek nasihat loem lah keu loen sebab pue hai yang droeneuh peugah, leeh pakeun langsoeng ditamoeng bak hatee loen"
artinya : "hai, kamu beri nasihat lagilah ke aku sebab apa yang kau ucapkan entah mengapa langsung maenyentuh hatiku"
0 komentar:
Poskan Komentar