Kamis, 02 Juni 2011

Jadi pengen nge-Blog lagih..

Tulisan-tulisan selanjutnya ini adalah kumpulan catatan yg selama ini aku publish di note fesbuk, enjoy guys!

Kamis, 02 September 2010

Tanggal ini dibulan yang lalu

Tanggal ini dibulan yang lalu, aku beserta semua rekan penerima beasiswa mendarat di Frankfurt, tepat pukul 06.30 dengan maskapai penerbangan negara tetangga yang sedang menggoda negara kita. Tak terasa waktu begitu pandai menipu, sudah sekali berganti rotasi bulan ternyata aku disini, di Jerman, Eropa.

Berikut adalah fakta dan kesan selama waktu yang tak terasa itu.

Bus dan system transportasi mapan lainnya

Begitu keluar dari Frankfurt International Airport, kami langsung disambungkan dengan bus menuju kota Marburg, tempat dimana kami akan melanjutkan kursus bahasa rumit ini. Sistem transportasi disini sudah dalam level Jenderal menurutku jika dibandingkan dengan level Kopral balok satu yang aku sematkan pada sistem transportasi di kota Jakarta. Begitu teratur, tepat waktu, bersih dan aman. Setiap bus memiliki jalur dan waktunya masing-masing. Sistem pembayaran penumpang pun dikelola dengan rapi dan bertanggungjawab, sehingga tidak pernah ada kejadian ngetam-ngetem berlama-lama seperti P 20 yang lazim kami gunakan ketika kursus di GI Jakarta dulu. Tidak ada juga adab keji menurunkan penumpang serampangan seperti Metro Mini disini, karena semua penumpang punya halte favoritnya masing-masing. Melihat fakta mengagumkan tersebut, sekali waktu aku termenung di halte favoritku, dan tersadar, bahwa ya, sekarang aku sedang berada di Jerman, Eropa.

Kota tua

Objek wisata kota tua di Indonesia yang pernah kudatangi cuma Kota Tua Batavia, tak jauh dari stasiun Kota, Jakarta. Menikmati Eropa memang idientik dengan mengunjungi bangunan-bangunan tua nan eksotis, tentunya dengan kewajiban berfoto disekitarnya. Di kotaku sekarang, Marburg, terdapat banyak sekali bangunan tua, kecuali pusat perbelanjaan yang sudah sedikit modern bangunan di kota ini semua masih peninggalan dari perang dunia ke-2 dulu, dimana kota ini selamat dan berbahagia. Sampai kini favoritku masih Heidelberg, kota dalam lembah nan eksotis, memiliki Puri tua dengan pemandangan luar biasa ke arah kota yang dilewati sungai bersih tiada tara. Berfoto disana, meyakinkanku bahwa sekarang aku sedang berada di Jerman, Eropa.

Tong sampah

Perkara ini sudah seharusnya dicontoh oleh warga Jakarta, atau bahkan warga Dunia. Membuang sampah pada tempatnya adalah peribahasa wajib hapalan anak esde di negeri kita Indonesia, tapi ternyata anekdot itu masih kalah jauh dibanding cerita guru saya disini, bahwa setiap anak Jerman yang sudah bisa berjalan wajib diajarkan cara membuang sampah yang benar, selayaknya anak kecil di Aceh yang diwajibkan membaca Iqra‘. Setiap tong sampah berkuasa pada tiap isi kandungannya, mereka semua diberi warna dan nama, ada yang berwarna kuning, merah, biru dan hijau. Si Kuning selalu berisi sampah plastik, Si Merah bermuatan sampah sisa makanan, Si Biru hanya mengadung kertas, dan Si Hijau hanya boleh ada sampah keras seperti gelas. Begitulah kawan, dan ketika aku lama berdiri di depan tong sampah aneka warna tersebut untuk berfikir akan kemana sampah ditanganku akan kubuang, aku menyadari, bahwa sekarang aku sedang berada di Jerman, Eropa.

Stadion megah dan sportivitas pendukung sepakbola

Minggu pertama aku langsung ikut rombongan teman-teman yang akan menuju Bremen. Niat kuatku hanya satu, melihat Wesserstadion, kandang Werder Bremen. Sabtu malam minggu pertama akhirnya niatku itu terlaksana, walaupun dalam keadaan malam hari, kemegahan dan atmosfir sakral agama sepakbola disini cukup terasa. Lalu minggu kemarin aku berbuka puasa di KJRI Frankfurt, ketika malamnya pulang, di dalam gerbong kereta yang bersamaan, kulihat dua orang suporter masing-masing klub yang baru saja bertanding di pekan ke-2 Bundesliga. Eintracht Frankfurt sebagai tuan rumah dipermalukan Hamburg SV di depan majelis mulia kotanya. Tapi mereka, kedua suporter dengan atribut bersebrangan itu tidak terlihat seperti suporter Persib dan Persija yang selalu merasa berkuasa di kandangnya. Aman rasanya menonton dan menikmati sepakbola disini, di Jerman, Eropa.

Mobil mewah

Selama tinggal di Jakarta, beberapa kali aku melihat mobil mewah pejabat negara dengan seenaknya membuat macet jalan raya. Disini, paradoks itu sangat terasa, karena mobil mewah selayaknya Mercy, VW, Ford dan bahkan BMW, sering kulihat dikendarai oleh rakyat jelata. Tertawa hatiku mengingat mobil pejabat negara yang disini seperti yang biasa saja. Itu artinya, sekarang aku sedang berada di Jerman, Eropa.

Air putih bersoda

Tak habis pikir aku ketika membeli air putih untuk melepas dahaga. Mengapa mereka mencampurnya dengan soda? Aneh sekali rasanya kawan, kau pikirkan dengan cermat tentang alasan mereka mencampurnya dengan soda, jika kau sudah tau jawabannya, tolong email aku segera, karena sekarang aku sedang berada di Jerman, Eropa.

Mesjid satu-satunya

Menghadapi Jumat pertama, kami pun sibuk bertanya tentang adakah mesjid di kota gereja ini. Alhamdulillah terdapat satu-satunya mesjid atau tempat sholat di lantai dua rumah seorang muslim disini, searah perjalanan jika kita berjalan dari gereja tua. Mesjid itu tak hanya untuk sholat saja, seperti layaknya mesjid zaman nabi dahulu kala, disitulah tempat semua masyarakat muslim berbagai negara bersujud dan juga berbuka puasa bersama. Miris hatiku mengingat mesjid-mesjid tanah air yang megah, mewah dan raya-raya, tapi saf sholatnya entah kemana. Beginilah kawan, karena aku sekarang sedang di Jerman, Eropa.

Udara Sejuk Dinginnya

Katanya sih sekarang masih musim panas, menjelang musim gugur. Terkadang matahari hangat menyapa, tapi tak jarang gerimis datang tanpa diduga. Terkadang suhu mencapai ke angka kepala dua, tapi pernah juga derajat menunjukkan nilai seadanya. Pernah suatu ketika, pagi hari saja dinginnya luar biasa, seperti Brastagi pukul tiga pagi. Tapi ada saatnya juga matahari memaksa Jerman-Jerman muda membuka bajunya. Tapi yang luar biasa adalah sejuk dan bersihnya udara, mungkin di Indonesia hanya ada di puncak Jayawijaya. Benar, inilah dia, sekarang aku sedang di Jerman, Eropa.

Rabu, 01 September 2010

No Place like Home

Sering kita baca kalimat itu pada status orang-orang yang jauh dari rumahnya, atau mereka yang baru saja kembali ke rumahnya setelah lama pergi. Kangen, rindu, kekhasan dan rasa nyaman di rumah memang membius dan berbeda untuk tiap orang.

Bagiku, No place like home tidak sepenuhnya benar, karena aku terbiasa menggambarkan dan menempatkan semua suasana „like home“ itu tak jauh, hanya 5 centi di depan mata hatiku, dengan begitu aku bisa memaksakan dan menekan rasa rindu tentang semua yang nyaman di rumahku ketika aku jauh.

Sejak sekolah lanjutan atas aku telah keluar dari rumah, aku memilih untuk merasakan bagaimana hidup bermasyarakat secepatnya, aku mantap untuk memilih asrama dengan segala keunikannya dibanding untuk tetap bergabung dengan generasi emas kelas unggul kami di sekolah sebelumnya. Aku pindah kota, tak jauh, sejam perjalanan dari rumah, tapi tetap saja sangat berarti buatku, karena dari sanalah aku banyak belajar tentang bagaimana mengatur dan mengendalikan kemanjaan diri terhadap kenyamanan sebuah rumah, dalam bahasa kini mereka menyebutnya mandiri.

Dilanjutkan setelah itu, aku seperti ketagihan akan suasana dan segala pahit manis-nya kehidupan dengan sesama teman sepantaran. Sebab itulah aku juga tegas memilih menjadi Taruna daripada mengambil satu posisi yang diumumkan secara nasional di Serambi Indonesia ketika itu, yaitu menjadi mahasiswa di salah satu fakultas universitas impianku sejak dulu. Kembali diawal pendidikan rasa rindu akut yang bahkan ketika di rumah tak terpikirkan terus menggodaku untuk menyerah dan kembali pulang.

Beruntung aku memiliki sahabat, teman, rekan dan saudara yang terus memberikan motivasi dan keyakinan, bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini, Allah mengirimku ke asrama itu untuk suatu sebab dan alasan yang nantinya aku akan tau, bahwa alasan itu akan terus membuat aku jadi lebih baik, jika aku terus bersyukur dan tak banyak mengeluh tentunya.

Aku akui, benar, aku sedang kangen dengan rumahku, itulah mengapa aku menulis, untuk membunuh rasa rindu itu. Bagaimana tidak, tadi, beberapa jam lalu aku berbicara dengan perempuan paling penting dalam hidupku, perempuan terlembut hatinya di seluruh dunia, perempuan paling ampuh doanya sejagat raya, perempuan paling agung titahnya, dialah ibuku, perempuan mulia pintu surgaku.

Bergetar rasanya hati ini menyadari bahwa kami sekarang bukan hanya berbeda waktu berbuka seperti dulu ketika aku memulai Ramadhan di Jakarta, Pangandaran ataupun Kediri. Sekarang bahkan kami berbeda hari bilangan puasa. Berbeda kondisi dan suasana puasa dan berbeda cara berbuka puasa. Ini Ramadhan pertamaku dimana nanti Idul Fitri aku tidak bisa mencium takzim punggung tangannya, mencium pipinya dan memeluk hangat tubuhnya. Aku merindukan mu ibu, sangat merindukan aroma tubuh agung mu!

Sekarang bukan seperti ketika aku memulai puasa di Jakarta, dimana acara favorit kami ketika berbuka adalah kumandang adzan maghrib yang dilansir semua stasiun TV nasional. Bukan, karena di minggu-minggu akhir itu aku telah tau jadwal pesawat untuk tiba di Polonia, untuk besoknya kembali pulang dan mencium punggung tangannya.

Sekarang bukan ketika aku di Pare, Kediri, dimana ketika aku selesai shalat isya di daerah WIB paling timur itu, maka keluargaku tengah berkumpul untuk baru berbuka. Beda 2-3 jam tidak berarti sekarang. Sekarang kami berbeda benua, berbeda rotasi bulan dan revolusi matahari, bahkan kami berbeda dalam arah sujud, mereka ke barat laut dan aku ke tenggara.

Tapi sudahlah, dimanapun kita berpuasa, selama kita terus bersyukur dan mengerti bahwa dunia ini adalah sajadah, bahwa dunia ini seluruhnya milik Allah, maka hatiku dan hati mereka nun jauh disana adalah dekat, seperti dekatnya kening kepala dengan tapak kaki ketika kita sujud.

Tersebut memori, atau apapun itu yang membuat kita ingat tentang masa-masa yang telah berlalu. Ada suasana yang membuat kita menitikkan air mata bahagia, haru ataupun bangga. Air mata tidak hanya diberikan Allah untuk alasan perih dan kepedihan, tapi juga untuk tanda syukur dan kekhusyu’an.

Taraweh pertamaku di Eropa bersama berbagai saudara dari seluruh dunia cukup membuat aku merasa kecil, merasa „nothing“ dalam beribadah. Saudaraku sekelas asal Checna bercerita tentang kebanggaan negara mereka yang murni seratus persen muslim, saudara disampingku ketika berbuka bersama asal Yaman bercerita tentang lafadz Arab mereka yang lebih „arab“ dibandingkan warga negara Saudi Arabia, saudara sampingku bertadarus Qur’an asal Kirgistan tak pernah alpa sholat berjamaah dengan Qur’an pocket-nya. Saudaraku asal Pakistan terus beribadah dengan khusyu‘ seakan membalas kekecewaan umat muslim dunia akan munculnya Ahmadiyah di dekat rumahnya. Luar biasa semangat mereka dalam berlomba mendulang pahala di Ramadhan edisi Eropa ini.

Apa yang lama kulakukan di Indonesia ataupun Aceh yang katanya negeri darussalam karena syariat Islam-nya, sangat berbeda kurasakan disini. Dulu, tiap 10 akhir Ramadhan aku setia membonceng perempuan agung itu, ibuku, berpindah dari satu mesjid ke mesjid lain di kota kami. Tak terhitung rasanya jumlah mesjid di kotaku jika membandingkannya dengan keadaan kami di sini dengan hanya satu-satunya tempat sholat (bukan seperti mesjid di Indonesia).

Butuh tempo sekitar setengah jam dari asramaku yang baru untuk sujud bersama orang-orang kuat iman itu. Kami selalu di imami oleh laki-laki fasih bacaan Qur’an-nya, begitu lembut dan agung alunan ayat-ayat suci itu. Beruntunglah bagi orang-orang yang khusyu‘ dalam sholatnya, nikmat tak ternilai bagi kita jika khusyu‘ dalam tiap sujud kita. Mudah-mudahan kami termasuk golongan orang-orang yang Engkau beri nikmati itu Ya Rabb..

Kemarin malam, pulang taraweh penuh makna itu kami berjalan dalam kondisi hujan gerimis dan suhu udara yang berlomba dengan waktu mencapai angka nol. Kedinginan dan kehangatan bercampur di hati tiap-tiap kami, kedinginan udara yang menusuk dilawan dengan kehangatan semangat beribadah di Ramadhan pertama kami di negara kaum-kamu ingkar ini. Berjalan di kedinginan itu sepertinya membuat kami ketagihan, alunan syahdu ayat suci dari lafadz imam asal Yaman itu sepertinya terus memanggil-manggil kami untuk tetap bersujud bersama, menghabiskan sepuluh terakhir penuh bulan suci setahun sekali ini. Kuatkan kami untuk terus bersujud bersama disitu Ya Allah..

Setiap kita punya reminder atau hal pengingat tiap Ramadhan yang kita telah lewati. Beberapa tahun lalu, diawal aku memasuki tingkat pendidikan tinggi, di asrama kami, sejak ba’da ashar selalu diputarkan nasyid Raihan bertajuk “Hari Raya” oleh pengurus mesjid ketika itu. Dan sampai sekarang, ketika aku mendengar lirik “…gema takbir di hari raya, kuteringat kampong halaman…aku diperantauan ...lalalala...“ tiap itupula bayangan tiap scene Ramadhanku saat itu muncul. Tak lama setelah itu, grup band nasional dengan cerdiknya memanfaatkan momen Ramadhan untuk mendulangplatinum dengan mengeluarkan album religinya, salah satu favoritku adalah Surgamu yang dilantunkan Ungu, benar-benar nyaman mendengarnya di kamarku sendiri sambil tidur-tiduran menunggu berbuka ketika itu, dulu.

Sekarang untuk Theme Song Ramadhan tahun ini sepertinya jatuh kepada penyanyi turunan Arab yang memegang title bachelor of aeronautical engineering itu, Maher Zain. Lagu dan liriknya yang penuh makna menjewerku untuk terus mendengar dan menghayati tiap syair syiarnya. Open Your Eyes, Thank You Allah, Awaken, Hold My Hand dan For The Rest of My Life tak pernah hilang dari playlist winamp-ku.

Mengingat hal itu kembali hati ini bahagia sekaligus takut. Bahagia karena sekarang aku masih diberi kesempatan bertemu Ramadhan tahun ini dilanjutkan harap-harap cemas, takut aku tidak bisa bertemu dengan Ramadhan tahun berikutnya. Hamba mohon ya Allah, pertemukan kami dengan Idul Fitri tahun ini dan Ramadhan suci tahun depan, lagi.

Marburg, Ernst-Lemmer Str Zi.406, 16.11

Permisi, aku mau menyiapkan idul fitri di Eropa pertamaku beberapa hari lagi, sendiri, cukup dihati!


Sabtu, 28 November 2009

rencana, by another one..

Setiap kita memiliki peran yang menonjol dalam kehidupan
Ada yang berperan dominan ada juga yang berperan kecil
Apapun itu, semua adalah warna yang mencerahkan hidup kita

Kehidupan akan menjadi menarik ketika warna tersebut dijalani dengan ikhlas
Kekuatan ikhlas akan mendorong kita untuk bisa melihat sisi terbaik dari perjalanan kehidupan
Ia akan melihat sebuah kebijaksanaan dalam arti sesungguhnya

Biarkan hitam itu ada di antara putih, karena itu akan memperjelas warna yang beragam dalam hidup.
Dan biarkan hidup berjalan sewajarnya
Meski begitu bukan berarti tidak ada peran dalam perencanaan
Perencanaan adalah bukti optimisme kita melihat masa depan dan Sang Khalik suka dengan cara kita merencanakan masa depan
Hanya saja ada sebuah rencana yang sangat besar di balik semua rencana kita, keinginan yang berbalut rencana mungkin akan menjadi sebuah kegagalan ketika semua tidak tercapai namun pada sebuah titik kedewasaan kita akan belajar melihat semua dengan mata hati kebijaksanaan

Jadi selalu ada sisi terbaik dari sebuah rahasia dan perjalanan kehidupan
Tidak akan ada yang tahu kapan semua akan terjawab, tapi kita akan merasakan perjalanan dan proses sebagai sebuah jawaban

Minggu, 05 Juli 2009

friends...from my mentor 43

Friend is a tissue when you can't stop crying,

a shoulder when you feel like dying,

always listens when you have something to say,

some glue when everything falls apart,

a sun when the rain just won't stop,

a phone call when you can't leave your home,

a hand when you feel all alone,

a wing if you want to fly,

an ear for a secret to tell love that can neverlet go A Friend is you, and i wanted you to know

Jumat, 03 Juli 2009

ya! ibuku benar...aku masih labil!!

hati ini sangat gampang untuk berubah, mudah untuk dibolak-balik oleh sang penguasa hati...
baru saja, kemarin siang perasaanku sangat egois, memandang masalah ini hanya dari satu sudut pandang, dan hanya butuh satu malam renungan untuk shubuhnya terbuka pikiranku...thanks GOD...Thank you ALLAH....syukur ku pada-Mu karena Kasih-Mu mengingatkan aku akan segala pertimbangan...
masih jelas terdengar di telingan kananku, suara menenangkan dan kesabaran seorang ibu yang mendengar semua keluh kesah dan emosi anaknya dan dengan bijaknya dia menuruti anaknya yg sedang emosi itu, dan aku pun tau bahwa setelah itu do'a nya pun tak pernah putus agar aku diberikan yg terbaik, agar pikiranku dicerahkan dan dijernihkan dari segala emosi, sehingga dapat melihat masalah ini dari sudut pandang yg berlainan dan bisa lebih bersyukur lagi...

kemarin...huffhhh....dari kemarin aku banyak mengambil hikmah dari perjalanan ini, sangat bermakna, dan jika aku salah mengambil keputusan maka tentunya aku akan harus siap menanggung resikonya sendiri, mungkin aku akan sangat menyesal, tapi mungkin juga tidak, aku tak tau, yg ku tau, bahwa ibu akan selalu disampingku, tetap mendengarkan ku dan selalu mendukung rencanaku..hanya itu yg ku tau, karena aku tak perduli seberapa benci orang disekitarku terhadap diriku, yg penting ibu dan keluarga ku tetap mempercayaiku, karena mereka adalah yg terpenting dalam hidupku sekarang dan selamanya...

akhirnya, aku akan kembali mengucap janji setia pada suatu kata-kata bijak,
"syukuri apa yang telah kau dapatkan, namun tetaplah berjuang untuk apa yang kau inginkan"

salam....

Kamis, 25 Juni 2009

Cinta itu keren ya...By: Muh. Ilham

disadur dari tulisan seorang sahabat,

KALAU DARI SEKARANG KAMU MEMPERSIAPKAN DIRI MENJADI LAKI-LAKI YANG BAIK, INSYAALLAH KAMU AKAN MENDAPAT WANITA BAIK PULA. KARENA PADI DENGAN BERAS PASTI AKAN DIPISAHKAN KALAU INGIN DIMASAK/ DITANAK, JADI PEREMPUAN BAIK UNTUK LAKI-LAKI BAIK & SEBALIKNYA LAKI-LAKI YANG BAIK JUGA UNTUK PEREMPUAN YANG BAIK.

Ne penggalan lain dari kata motivasinya untukku. Penggalan surat yang ditulis anak perempuan yang berusia 17 tahun, yang seusia denganku saat itu. Pernahkah anda merasakan posisi yang aku alami? Perasaan campur aduk memenuhi tiap pori2 di jiwaku. Bangga, kagum, cinta, kesal karna sok tw x ne anak,(-: dan beragam rasa laen yang terkadang ku tak tahu apa artinya.

Sedikit kugambarkan tentang sosoknya. Pembawaannya lembut keibuan, parasnya untuk para co mengistilahkanya “enak banget dipandang”, wataknya lembut namun akan menjadi sangat keras saat mempertahankan prinsipnya termasuk sering berdebat denganku tentang kapasitas perempuan bepergian jauh menuntut ilmu tanpa ditemani muhrim karena dah bulat tekadnya untuk melanjutkan kuliah di al-azhar, cairo. Wawasan pengetahuan islamnya dipenuhi pergerakan dakwah kontemporer kontras denganku yang terdidik dengan pengetahun Islam konvensional. Di setiap forum debat Islam terkini, dimana dan kapan pun itu, bila aku ada dan dia juga hadir, pasti perdebatan tak bisa dielakkan. Satu hal yang membuatku tertarik darinya, semangat juangnya mempertahankan komitmen tentang pergerakan dakwah yang masih tabu di kalangan santri dayah(walau kami berada di dayah terpadu) tak pernah padam. Ditambah lagi dengan kemandiriannya dalam hidup, aktif dalam menulis dan mampu berpenghasilan di umurnya yang masih kelas 2 aliyah. Aku selalu dibuat mati kutu olehnya kalau bicarain masalah kreatifitas. Termotivatisi olehnya lah yang membulatkan tekadku untuk mau menjadi ketua bidang jurnal dan informasi OSIS, padahal menulis adalah hal yang paling aku benci, bete habess. Rasa tak mau kalah ma cewek ,yang membuatku harus bisa melebihinya dalam segala hal, terhina x rasanya kalau kita kalah dari ce hanya karena kita malas.. Palagi aku sangat gak terima dengan ejekannya dengan ngatain aku “anak mami” (padahal aku selalu jadi bintang kelas dan sabuk coklat salah satu cabang bela diri digenggamanku)..

Dia yang memperkenalkan padaku TENTANG HAKIKAT PEMUDA MUSLIM. YANG BERANI MENGATAKAN DENGAN PENUH KEBANGGAAN “ INI LAH AKU” , BUKAN YANG DENGAN KESOMBONGAN BILANG “AKU ANAK ….”.

Semenjak waktu menuntut untuk lebih mengenal akan hidup, dia dengan tekadnya menyebrang samudra hindia menuju negeri seribu piramid, sejak itu,kami tak lagi bersua. Sepeninggalnya, hidup yang kujalani semakin penuh godaan dan penuh tantangan untuk bisa memaknai kemandirian. Namun, karena dasarnya fondasi perjalananku yang masih rapuh, berapa kali aku harus mati2an bangkit dari jurang kemungkaran. Satu hal yang selalu kuingat dari motivasinya : SOBAT, TIDAK PEDULI KEHIDUPAN SEPERTI APA KAU PILIH, JALANILAH SELAMA ITU MEMBUATMU NYAMAN DAN BAHAGIA, WALAU AKU SULIT UNTUK MENGERTI… SELAMA KAU BERTANGGUNG JAWAB ATAS PILIHAN TERSEBUT, MELANGKAHLAH DENGAN YAKIN…PASTI AKU AKAN MENGERTI AKHIRNYA… YAKINLAH, MIMPIMU AKAN CINTA SEJATI AKAN MENJADI KENYATAAN DI UJUNG CERITA PERJALANAN YANG ENGKAU YAKINI.. SELAMAT BERJUANG..! ALLAH SELALU BERSAMA KITA, PARA PECINTA ALLAH & RASULNYA..